Angin Batang Air Angin batang air membawaku kembali lagi ke tempat itu tempat yang telah merampas kemacetan logika yang menyambar kepalaku, tempat itu pula yang mengentaskan riuh trotoar jalan di urat sepanjang tubuhku, juga tentang sesorot mata tiba-tiba lenyap dari pandanganku Deru angin yang gigil datang serupa itu menuruni lereng. Ia goda lembap jalanan, pucuk daun teh yang basah, serta sebuah tugu berpatung harimau loreng. Lain waktu aku pula digodanya, ia bawakan ingatan Tentang ingatan yang kandas di tempat kelam tertutup kabut. Sesekali, di tempat yang sama, aku dengar orang-orang berteriak parau mungkin kepada diri sendiri. Perihal daun teh yang diekspor ke Eropa, transmigran Jawa yang mendominasi pribumi, sampah-sampah dari kota-kota yang dikirim ke pedalaman, atau bule-bule di penginapan yang terlalu banyak maunya. Tapi, patung harimau itu masih serupa itu juga. Di emperan sebuah kedai, aku bersila menikmati kopi serta sebatang gepe...
Postingan
Menampilkan postingan dengan label sajak
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Hari ini aku membenci diriku sendiri Hari ini aku membenci diriku sendiri. Aku membenci dedak kopi di cangkir dan benci api dan asap dalam kamar. Aku membenci rambut yang dipotong pendek dan benci bau-bau kecut aneh yang samar. Aku membenci cara penyiar televisi mengumandangkan berita palsu dan benci kepala pecah entah karena apa. Aku benci anjing menyalak di teras rumah dan benci roti sobek yang terkapar tiga hari; segan memakan dirinya sendiri. Aku benci apa-apa yang ada di teras dan benci suasana mencekam di kelas. Aku benci apapun ujud gerak tanpa makna, seperti kebencian kau pada sajak yang sedang kau baca dan kau butuh suara selain bahasa. Sedang aku butuh satu lagi bahasa sepi yang belum terisi apapun makna. (Studio Jangkrik, 2017)