Angin Batang Air

Angin batang air membawaku kembali lagi ke tempat itu
tempat yang telah merampas kemacetan logika yang menyambar
kepalaku, tempat itu pula yang mengentaskan riuh trotoar jalan
di urat sepanjang tubuhku, juga tentang sesorot mata
tiba-tiba lenyap dari pandanganku

Deru angin yang gigil datang serupa itu menuruni lereng.
Ia goda lembap jalanan, pucuk daun teh yang basah, serta sebuah tugu
berpatung harimau loreng. Lain waktu aku pula digodanya, ia bawakan ingatan
Tentang ingatan yang kandas di tempat kelam
tertutup kabut.

Sesekali, di tempat yang sama, aku dengar orang-orang berteriak parau
mungkin kepada diri sendiri. Perihal daun teh yang diekspor ke Eropa,
transmigran Jawa yang mendominasi pribumi, sampah-sampah
dari kota-kota yang dikirim ke pedalaman, atau bule-bule di penginapan
yang terlalu banyak maunya. Tapi, patung harimau itu masih serupa itu juga.

Di emperan sebuah kedai, aku bersila menikmati kopi
serta sebatang gepe ditusuk sepoi angin landai
sambil bertanya sendiri, mengapa tidak aku bermenung
di tempat yang lebih tepat di parak siang sedingin ini?

“Untuk apa? Bukankah kenangan wanita dalam benakmu itu sudah membikin tubuhmu hangat?”



Komentar