Jalur Air
Rabu parak siang.
Suatu malam, saat hujan masih gerimis,
kuletakkan lembaran sajak yang pernah kutulis
di atas bangku taman
lalu kutinggalkan begitu saja.
Lantas aku berlari menemuimu
untuk berbisik di pangkal telingamu,
kuletakkan lembaran sajak yang pernah kutulis
di atas bangku taman
lalu kutinggalkan begitu saja.
Lantas aku berlari menemuimu
untuk berbisik di pangkal telingamu,
“Telah luntur kata-kataku di bangku taman kota.”
Komentar
Posting Komentar